Kwarnas  Gerakan Pramuka Minta Relawan Pramuli Tak Gunakan Istilah Trauma Healing. Ini Alasannya

Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka menyelenggarakan pelatihan Dukungan Psikologis  Awal (DPA)  bagi relawan Pramuka Peduli. Kegiatan yang diselanggarakan melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting ini merupakan tindak lanjut penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia pada tanggal 28 November 2020 di Yogyakarta.

Peserta dari Kwartir Cabang (Kwarcab) Purbalingga, Kak Riandini Nur Triaviani menuturkan, sasaran kegiatan yang diikuti oleh 40 orang Pramuka Peduli se-Indonesia ini ditargetkan membentuk Tim DPA di wilayahnya. Pelatihan yang dilaksanakan dari tanggal 25 Januari  hingga  4 Februari 2021 ini terbagi untuk kebencanaan banjir, tanah lonsor, gempa bumi, dan gunung meletus.

“Nantinya, di masing-masing Kwarcab membentuk  tim DPA yang melibatkan Kakak-kakak Pramuka Peduli dan seluruh Andalan,” ungkapnya usai mengikuti pelatihan, Rabu (27 Januari 2021)

Ia menjabarkan,  setelah mengikuti pelatihan ini, terpetik penggunaan kata “trauma healing” atau ‘konseling trauma’ tidak sepenuhnya tepat. Pasalnya, trauma healing atau trauma recovery itu merupakan tindakan terapi khusus yang dilakukan oleh ahli untuk menangani orang-orang yang memang sudah menunjukkan gejala-gejala trauma dan sudah mengganggu fungsinya sehari-hari.

“Penggunaan istilah yang tepat trauma preventing bukan trauma healing. Artinya, trauma preventing merupakan DPA untuk mencegah agar apa yang dialami penyintas saat bencana tidak berlanjut menjadi menjadi trauma karena sebut pencegahan preventing,” ungkapnya

Ia menjabarkan, Kwarnas meminta  untuk seluruh anggota Pramuka Peduli sudah tidak menggunakan istilah “trauma healing” melainkan istilah “trauma preventing”. Karena  “trauma healing” tidak dilakukan oleh orang yang awam atau bukan ahlinya.

“Untuk anggota Pramuka Peduli dan relawan lainnya dapat memberi bantuan psikososial dengan memberikan dukungan komunitas dan keluarga, yakni dukungan tradisional masyarakat dengan ruang ramah anak yang mendukung dan mengaktifkan jejaring sosial serta advokasi untuk memberi pelayanan dasar yang aman sesuai norma sosial dan melindungi martabat manusia,”ungkapnya.

Ia menambahkan, untuk bantuan psikososial layanan kesehatan mental yang terbagi dalam dukungan non spesialis terfokus layanan kesehatan mental dasar masuk ranah Psikolog, Psikiater, dan Perawat Kesehatan Jiwa. Ini dilakukan oleh dokter di fasilitas kesehatan dasar. Sedangkan dukungan emosional dasar dan praktis oleh kader kesehatan

“Ini dilakukan oleh dokter di fasilitas kesehatan dasar. Sedangkan dukungan emosional dasar dan praktis oleh kader kesehatan,”ungkapnya

Dalam pelatihan ini lanjut Kak Riandini, disebutkan bahwa DPA merupakan serangkaian keterampilan dan pengetahuan yang digunakan untuk membantu orang dalam keadaan stress, sehingga mampu untuk menjadi lebih tenang dan merasa didukung untuk menghadapi permasalahan atau tantangannya dengan lebih baik

“Setiap orang yang terlatih dapat memberikan DPA. Misalnya para relawan, garda depan, bahkan masyarakat umum sekalipun. Dukungan sosial baru akan bermanfaat , jika yang diberikan pemberi memang sesuai dengan yang dibutuhan penerima, karena  manfaat dukungan sosial akan meningkat ketika penerima yakin dan percaya bahwa pemberi memang bersedia dan/atau mampu membantu,” tuturnya

 

 

ginanjar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Yuk, Pramuka Jawa Tengah Dukung “Gerakan Jateng di Rumah Saja”

Fri Feb 5 , 2021
Gerakan Pramuka Kwarda Daerah (Kwarda) Jawa Tengah menyerukan kepada seluruh anggota Pramuka Jawa Tengah untuk mendukung “Gerakan Jateng di Rumah Saja” Ketua Kwarda Jawa Tengah, Kak Siti Atikoh Suprianti menulis dalam suratnya bernomer 084/11-A tanggal 5 Februari 2021yang ditujukan Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) se-Jawa Tengah untuk mendukung  seruan Gubernur Jawa […]