Pramuka Saka Pariwisata dan Saka Widya Budaya Bakti Belajar Bersama di Museum Soegarda Poerbakawatja Purbalingga

Sebanyak 50 orang anggota Satuan Karya (Saka) Pariwisata dan Saka Widya Budaya Bakti Kwarcab Kabupaten Purbalingga mengikuti “Belajar Bersama di Museum”. Kelas yang dibuka pada Belajar Bersama di Museum yakni Kelas Membatik, Kelas Membuat Gerabah dan Kelas Musik Tradisi diselenggarakan pengelola Museum Prof. Dr. R Soegarda Poerbakawatja Purbalingga.

Kegiatan ini berlangsung mulai Senin (23 November 2020) hingga Minggu (29 November 2020) tetap melaksanakan pembatasan terkait dengan pencegahan penyebaran covid-19.

Register Museum Soegarda, Kak Anita Indah Cahyani menuturkan, 50 orang peserta dari Saka Pariwisata dan Saka Widya Budaya Bakti ini terbagi menjadi tiga kelas, 10 orang mengikuti kelas musik tradisi, 20 orang mengikuti kelas membatik dan 20 orang mengikuti kelas membuat gerabah.

“Peserta untuk Belajar Bersama di Museum kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya yakni anggota pramuka yang tergabung dalam Saka Pariwisata dan Saka Widya Budaya Bakti. Kalau sebelumnya peserta adalah siswa Sekolah Dasar (SD), jadi untuk tingkat kesulitan kelasnya pun sedikit berbeda dari tahun sebelumnya,”  ungkap Kak Anita.

Ia menambahkan, Belajar Bersama di Museum ini merupakan program publik yang didanai melalui Dana Alokasi Khusus Non Fisik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

“Belajar Bersama di Museum ini sebenarnya sudah tahun kedua yang dilakukan Museum Soegarda,” katanya

Kak Anita menjelaskan, berbeda dari tahun sebelumnya, tahun ini terdapat kelas pelatihan musik tradisi. Karena Purbalingga masuk dalam wilayah Banyumas Raya maka musik khusus yang dipelajari yakni musik calung.

“Untuk peserta kelas musik tradisi ini dari awal sudah ditentukan karena untuk memainkan musik ini tidak bisa ganti-ganti dan diakhir juga ditarget bisa menghasilkan karya musik yang menarik. Khusus kelas calung diharapkan bisa menampilkan karya yang hasilnya akan disiarkan secara virtual melalui kanal Youtube,” ujarnya.

Sementara untuk Kelas Membatik sendiri ditarget bisa membuat batik motif pakem atau klasik di atas kain selebar 1 meter. Proses pembuatannya memakan waktu kurang lebih dua hari mulai dari proses menggambar pola hingga menjadi kain batik.

“Satu orang di Kelas Batik sebetulnya memakan waktu kurang lebih sampai dua hari, jadi untuk peserta kelas batik selesai paling sore untuk menyelesaikan kain batiknya sampai jadi,” tuturnya.

Selanjutnya Kelas Membuat Gerabah, peserta diharapkan mampu membuat salah satu bentuk gerabah baik asbak, mangkok atau yang lainnya. Setelah selesai membuat, gerabah lalu dijemur, kemudian diberi warna yang menarik sesuai keinginan mereka dan dijemur kembali.

“Kelas Membatik dan Membuat Gerabah ini paling menarik, karena mereka bisa mendapatkan ilmu keduanya jadi satu hari untuk membuat gerabah dan satu harinya lagi membuat keramik secara bergantian,” imbuh Kak Anita.

 

 

yudhi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Ini Cerita Nadia dan Azka Anggota Pramuka Siaga Kwarcab Purbalingga. Bangga Ikut Persari Kwarda Jawa Tengah Secara Daring

Wed Nov 25 , 2020
Sebanyak 20 orang Pramuka Siaga di Kwartir Cabang (Kwarcab) Kabupaten Purbalingga mulai mengikuti kegiatan pertama Pertemuan Pramuka Siaga Sehari (Persari) Gerakan Pramuka Kwartir Daerah (Kwarda) Jawa Tengah tahun 2020. Setelah upacara pembukaan yang dilakukan dalam jaringan (daring) melalui aplikasi Zoom Metting,  mereka mengikuti sesi sapa kawan Jawa Tengah dari sekolahan […]